Jumat, 21 Juni 2013

Sekilas Tentang Kehidupan Kampungku, Trikarya

Andi: Ajeng tindak pundi mbah?
Mbah podho: Ajeng teng saben le, niki ajeng nanem polowijo.
Andi: Monggo mbah, kulo rumiyien.

Membaca sepenggal percakapn diatas, Pasti anda berpikir bahwa sepenggal percakapan di atas di lakukan di sebuah desa di daerah Jawa Tengah atau daerah Jawa yang lain.Kalau memang itu yang ada di benak anda, ternyata anda salah besar. Percakapan itu dilakukan di sebuah desa di daerah Belitang III OKU Timur Sumatera Selatan, kampung kelahiranku. Maka jangan heran kalau anda datang ke Belitang III, tepatnya Desa Trikarya yang merupakan lumbung padi di Sumatera Selatan dan juga penghasil karet, serat tebu, banyak sekali di temukan orang-orang Jawa. Mereka adalah orang-orang transmigran. Para transmigrasi tersebut tiba di daerah Belitang melalui program kolonisasi massal yang dilakukan pemerintah Belanda pada tahun 1930-an. Dan kebanyakan orang Jawa yang benar-benar giat bekerja keras menjadi sukses, dan makmur hidupnya. Karena masyarakat Jawa sendiri memiliki filosofi sepi ing pamrih, rame ing gawe, yaitu menekankan pentingnya kerja nyata tanpa banyak mengeluh.

Soal bahasa, banyak bahasa yang di gunakan di daerah ini. Selain bahasa Melayu-Palembang dan bahasa Indonesia, bahasa Jawa menjadi salah satu bahasa percakapan sehari-hari di perkampunganku. Penduduk asli suku Komering atau berbagai suku pendatang dari daerah lain yang menetap di daerah pertanian ini, juga cukup mahir berbahasa Jawa. Selain itu banyak nama-nama penduduk yang mengacu pada peristilahan khas Jawa yang singkat dan berakhiran“O”. Misal kalau nama: prayogo, suswanto, sutikno, sudarsono, painem, paijem, sutrisno dan lain sebagainya. Begitu juga dengan penamaan desa, karena banyak desa di Belitang di buka dan di dirikan oleh orang-orang trans (Jawa) maka nama-namanya-pun menggunakan nama Jawa. Seperti; Tawang Rejo, Bangun Harjo, Sido Mulyo, Donoharjo, Sido Dadi, Banyumas, Tegalrejo, dan seterusnya dan seterusnya.
Sebenarnya kita bisa membedakan mana orang asli (Komering) atau mana penduduk pendatang (transmigrasi). Sebagai contoh, orang asli Komering memakai nama Cik Aman, Tando Kowi, Mardiana, Marniah, Daniel, Galung dan lain-lain. Begitu juga untuk penamaan sebuah desa. Kalau yang mendirikan itu orang asli Komering mereka menggunakan nama; Rasuan, Sukarame, Minca Kabau, Campang Tiga, Way Halom dan lain-lain. Jadi, kalau kita jeli, kita bisa melihat apakah dia asli orang Komering atau orang pendatang. Dengan cara mengenali nama orang dan atau bisa juga dengan nama desanya. Salah satu contoh soal bahasa, kalau saya di rumah (kampung) dalam kehidupan sehari-hari saya menggunakan tiga bahasa. Di dalam rumah/keluarga, saya menggunakan bahasa Jawa, akan tetapi kalau saya keluar dari rumah, saya menggunakan bahasa Komering dan bahasa Palembang. Soal nama, terlihat sekali kalau saya orang”Palembang Bajakan”, begitu suatu kali teman berucap kepada saya. Atau ada istilah untuk orang-orang Jawa yang lahir di Sumatera, yakni Pujakusuma (Putra Jawa Kelahiran Sumatera). Walaupun begitu, saya tetap merasa kalau saya orang Sumatera (Belitang).


                                             *ITULAH SEKILAS DESAKU*
*


1 komentar:

sungguh senang sekali gan, bila aku bisa tinggal didaerahmu ini..

mampir juga gan ke http://jagattinta.blogspot.com/

Poskan Komentar